Monthly Archives: June 2013

HS Itu Sesuai Dengan Style Keluarga

Satu pencerahan besar yang saya dapat dari buku ‘Belajar Tanpa Sekolah’, ber-HS itu sangat kondisional, bergantung pada gaya hidup masing-masing keluarga. Keluarga petani akan ber-HS yang cocok dengan gaya hidup petani; demikian pula keluarga pedagang, keluarga guru, keluarga ilmuwan, dll. Inilah yang membuat saya semakin PD untuk ber-HS karena saya tidak perlu menjadi orang lain. Kehidupan orang lain hanya dipelajari untuk diambil hal-hal yang cocok saja, tidak untuk ditiru mutlak.

Karena kami keluarga penulis, ya sudah beginilah kami. Sejak sebelum ber-HS pun setiap anak sudah memiliki laptop dan sudah saya arahkan untuk suka menulis. Kirana bahkan sudah menulis 7 buku (sebagian sendiri, sebagian antologi, dan ada satu yang sedang proses terbit, dan satu lagi masih dipertimbangkan penerbit). Jadi, pola kehidupan kami sehari-hari memang berkaitan dengan menulis, membaca, dan diskusi. (kalau Reza, dia suka ‘menuliskan’ isi pikirannya melalui gambar).

Tentu saja ini bukan kehidupan yang sempurna. Ada banyak yang musti kami kembangkan bersama: olahraga, bersosialisasi lebih intens dengan tetangga, lebih peduli pada situasi lingkungan, dan lebih sering jalan-jalan ke alam terbuka (bukan ke mall melulu).

Rana dan Reza memang tidak kami paksa jadi penulis tapi kami arahkan untuk bisa dan mahir menulis. Sesuai pengalaman kami, kemampuan menulis itu akan ‘menyelamatkan’ mereka dalam berbagai urusan. Betapa banyak orang pinter tapi karena tak mahir menulis, kepintarannya hanya bisa diungkapkan lewat verbal. Teman kuliah saya banyak yang pintar, tapi kesulitan lulus karena tesisnya nggak beres-beres. Dan kebetulan pula memang dunia tulis-menulis yang kami kuasai, ya inilah yang ingin kami wariskan kepada anak-anak kami. Ortu yang mahir berdagang akan mewariskan ilmu bisnisnya kepada anak-anaknya, ortu yang aktif jadi guru dan pengajar, mungkin akan mewariskan kemahiran mengajar kepada anaknya, dst.

Ini saya dapatkan dari tulisan seseorang di FB, tips untuk mengatur waktu HS yang panjang (waktu HS itu kan 24 kan; tidak terikat dengan jam khusus ala sekolah formal), dan saya akan coba mengaplikasikannya sesuai dengan style keluarga saya:

1) Membangun dan membentuk lingkungan rumah yang menarik untuk di eksplorasi, tergantung dari keputusan keluarga. Karena kami sangat intens membaca (buku atau via internet), rumah kami memang penuh buku, pergi ke mall pun tujuannya beli buku, dan sebagian besar waktu anak kami (dan kami sendiri) memang dipakai untuk membaca.

2) Menghindari praktik-praktik yang akan membuat anak jadi enggan membaca.

ini saya rasakan pada Reza: setiap dia ‘lepas kontrol’ (dibiarkan main game terlalu lama), dia jadi malas membaca; setelah diperketat lagi jadwalnya (hanya 30 menit setiap sabtu dan ahad), maka dia jadi kutu buku lagi.

3) Dilibatkan dalam urusan rumah tangga sebagai bagian dari lifeskill, seperti memasak, membersihkan rumah, dan lain sebagainya. Cooking day menjadi salah satu ‘jadwal pelajaran’ favorit anak-anak karena akan memasak menu khusus yang mereka sukai, yang jarang ada di rumah kami, misalnya bikin es krim, donat, cake tape, dll 

4) Merencanakan kegiatan keluarga bersama dan field trip secara reguler sebagai bagian dari keseharian belajar  –> nah ini belum kami lakukan, harus dijadwalkan nih!

5) Terlibat dalam kegiatan di lingkungan rumah, sebagai bagian dari volunteering/kerja sosial –> nah ini belum kami lakukan, harus dijadwalkan nih!

6) Mendaftar ke kursus/les yang berhubungan dengan hobi dan kesukaan anak. –> sudah/sedang dilakukan

7) Merencanakan play dates (kencan bermain) dengan sesama Homeschooler –> nah ini belum kami lakukan, harus dijadwalkan nih!

———–

PR saya hari ini (Senin 1 Juli): bikin jadwal yang flexible, sesuai petunjuk di sini: homeschool-weekly-schedule

Advertisements

Pengamatan (1)

Reza suka menggambar dan sangat tekun memperhatikan tutorial di you tube. Dia sudah memiliki blog sendiri, temanya Ninjago.

Yang saya lakukan:

1. Mengajak Reza bikin lapbook tentang Ninjago, manfaatnya: dia bisa belajar menulis (mengungkapkan cerita yang ada di benaknya dalam bentuk tulisan), dan bahasa Inggris (karena seneng dengan soundtrack song-nya).

2. Reza mulai les dengan kak Andi Tegar, bikin komik. Kak Andi bahkan langsung mengajari Reza membuat cerita, serta mewarnai hasil gambar dengan photoshop.

IMG_20130630_095819

3. Reza mulai ikut kursus b.Inggris online via Raz-kids.com

Kirana gimana..?

Les biola+piano+b.Inggris belum mulai lagi (jadwal belum fix, jadi akan dimulai mulai awal bulan Juli)

Sekarang tiap pagi Rana bisa bikin jus buah+sayur, bbrp hari yll berhasil bikin cake tape (tapi karena Reza sangat berperan membantu, cake ini diklaim Reza sebagai ‘karya’ Reza :D).

IMG_20130625_122552

Rana sedang melanjutkan novelnya yang terbengkalai selama ini karena sibuk sekolah. Lalu sedang menikmati novel Agatha Christie dan Sherlock Holmes, dan mulai senang ngeblog.

 

De-schooling

Saya tentu saja belajar dari orang lain, dari seseorang di facebook.

Ilmu yang satu ini menjawab pertanyaan saya, mengapa selama beberapa hari Kirana keliatan males-malesan melulu. Padahal, yang saya harapkan, dia tekun belajar. Tapi ternyata selama ini dia tekun belajar karena ada target pribadi: ingin dapat nilai bagus di sekolah, ingin berprestasi, malu sama teman-teman kalau nilainya jelek. Sekarang, ketika tidak ada lain kompetisi seperti itu, dia pun merasa tak perlu gigih belajar.

Ternyata, ada proses penting dalam HS untuk anak yang pernah sekolah, yaitu de-schooling, menghilangkan paradigma sekolah yang tertanam di dalam benaknya selama ini.Dan ortu pun, perlu men-deschooling-kan dirinya. Jadi, melihat Kirana males-malesan, baca novel melulu, ngutak-atik blog melulu, saya tidak perlu merasa dia ‘tidak melakukan apa-apa’. Justru dia sedang belajar.

Seorang ibu HS-er cerita, anaknya sibuk main game tertentu, lalu si anak terdorong untuk meng-upgrade diri dengan menonton tutorial di you tube berulang-ulang (padahal itu berbahasa Inggris). Setelah itu, dia malah bisa bikin tutorial ala dia sendiri, dan bahkan bahasa Inggrisnya pun semakin bagus.

Bila saya (ortu) berhenti melihat ‘belajar’ = belajar ala sekolah, maka saya akan menangkap bahwa si anak sedang mempelajari sesuatu sesuai dengan panggilan hatinya; dan indikator keberhasilan saya harapkan seharusnya adalah: rasa percaya diri, meningkatnya kemampuan bicara/presentasi, kemampuan riset, dan mengupgrade diri sendiri.

Artinya, saya harus berhenti memfokuskan diri pada subyek atau materi saya pikir ‘penting’ (sesuai standar kurikulum sekolah) dan mulai fokus pada anak. Saya harus berhenti memikirkan model ‘belajar ala sekolah yang mementingkan pencapaian target kurikulum, yang fokus pada materi belajar, dan yang fokus pada ingin menjadikan anak penurut dan gampang diatur supaya target belajar tercapai’.

Fokus pada anak: perhatikan kegiatan yang paling disukai anak, lalu saya harus mulai dari sana. Saya harus fokus pada upaya menumbuhkan rasa percaya diri dan keinginannya untuk “mengajari diri sendiri (self-learning)”.

Nah,teman saya di Facebook juga mengatakan bahwa proses de-schooling untuk Rana perlu waktu sekitar 8 bulan karena Rana pernah sekolah selama 8 tahun (TK-SD). Jadi, selama 8 bulan ini, Rana tidak perlu belajar akademik.

Yang harus saya lakukan selama 8 bulan ini: perbanyak ‘kencan’ dengan Rana, misalnya sering-sering joging sekeluarga, nonton bareng, ke toko buku bareng, ke pameran, ngebaso, belanja, ke mal, masak bareng, apa aja deh asal happy. Aktifitasnya tidak begitu penting, yang penting adalah membangun connectionnya.

Insya Allah, -kata teman saya ini- nanti akan terlihat hasilnya, misalnya Rana menemukan ritmenya, saya makin mengerti Rana, beberapa kesempatan akan muncul, minat yang lain akan terlihat setelah banyak diekspos. Dan, kadang  anak memang harus dibiarkan bosan, karena kreatifitas sering kali muncul dari rasa bosan.

Nah, demikianlah hasil belajar saya dengan senior HS via inbox FB. 🙂

Pembelajar Mandiri

Saya belajar dari sini: Pembelajar Mandiri

Intinya, melalui pendidikan, ortu mempersiapkan anak agar mampu menjalani kehidupannya kelak dengan sebaik-baiknya; menjadi hamba Allah/khalifah Allah.

Jadi, belajar bukan ttg menghapal konten/cepat lulus tapi ttg kultur, insiatif, ketrampilan, kecintaan pada ilmu

Kecintaan pada ilmu berkorelasi dengan kemandirian belajar: belajar karena memang merasa ada yang perlu dipelajari (ada dorongan dari diri sendiri); bukan karena disuruh-suruh ortu; otodidak, berorientasi tujuan, terampil mencari materi belajar, bisa self management.

Tapi prakteknya gimana? Ada tahapannya (dari artikel yang saya link di atas):

  1. Pertama, ortu melakukan lebih dulu & MENIKMATI. Kl ortu ingin anak menghapal Qur’an, ortu dulu yg harus menghapal & harus menikmatinya!
  2.  Kedua, ortu melibatkan anak. Porsi ortu lebih besar, anak membantu. Ketiga, ortu hanya membantu, porsi anak lebih banyak.
  3. Keempat, ortu & anak berkegiatan bersama. Barulah akhirnya anak bisa jadi pembelajar mandiri. Prosesnya harus berurutan, ga bisa loncat.
  4. Tahapan pembelajar mandiri bisa digunakan untuk belajar semua hal, dimulai dari pekerjaan rumah, membuat jadwal harian, presentasi dsb
  5. Nah tantangannya di tahapan2 awal, ketika anak baru dilibatkan. Pekerjaan jadi lama selesai dan lebih berantakan.
  6. Untuk pembelajaran formal, bisa pakai model riset + presentasi, dg tahapan yg tadi juga

Saya masih harus mulai di tahap pertama: saya harus berusaha MENIKMATI dulu semua ini, caranya, seperti yang sudah berkali-kali dikatakan suami saya: lepaskan diri dulu dari berbagai urusan sampingan, konsentrasi dulu pada anak-anak. Insya Allah, ketika mereka sudah jadi pembelajar mandiri,  akan banyak waktu untuk diri saya sendiri.

Memindahkan Pusat Gravitasi

Saya belajar dari sini: Metode Homeschooling

Secara utuh saya copas, lalu yang saya kasih garis bawah adalah yang saya rasa penting untuk saya ingat/lakukan:

  1. Dalam #homeschooling, asumsi utamanya bahwa keluarga merupakan pihak yang paling tahu apa yang terbaik untuk anak, bukan pemerintah atau yayasan
  2. Jadi yang paling pertama dalam #homeschooling adalah keluarga membuat gambaran besar tentang tujuan pendidikan & nilai2 yang diinginkan o/ keluarga
  3. Keyword di sekolah adalah ‘harus’, tapi keyword dalam seluruh proses #homeschooling adalah ‘boleh’
  4. Pertanyaan yg banyak diajukan pada keluarga homeschooler adalah ‘Pake kurikulum apa?’ karena asumsi bahwa HS selalu berarti memindahkan sekolah ke rumah
  5.  Metode school-at-home dlm #homeschooling tdk salah, tp tidak natural, ortu bukan guru, dan cenderung belajar untuk ujian, bukan untuk kehidupan
  6. Dlm #homeschooling, ortu berperan sbg kepala sekolah/fasilitator yg merencanakan bagaimana anak mendapat kecakapan hidup & jadi pembelajar mandiri
  7. ‘Permainan’ di sekolah biasanya ttg bagaimana isi rapor, tapi dalam #homeschooling adalah tentang passion anak & gimana dia menjalaninya
  8.  Jika ada hal2 yg tdk dikuasai ortu, bs saja pakai jasa tutor/bimbel/kursus. Tapi tutor/bimbel/kursus itu tdk disebut lembaga #homeschooling
  9. 1 jam disekolah biasanya setara dg 15 mnt belajar di rumah. Jadi kalau anak TK belajar 2 jam, di rumah cukup berkegiatan dg ortu 30 menit saja
  10. Kalau di sekolah anak belajar 6 jam, berarti kalau #homeschooling cukup 1,5 jam saja. Sisanya? MAIN! *ciyusss…
  11. Atmosfir yg dibangun ortu bkn cma fasilitas fisik, tp jg sikap terbuka pd ptanyaan apapun, sabar meladeni anak, ga cepet panas kl anak salah
  12. Misalnya, ortu menganggap sejarah penting dipelajari anak, maka ortu akan melakukan kegiatan terkait sejarah, ngobrl ttg sejarah, nonton >>
  13. >>… nonton film dokumenter, cerita ttg tokoh sejarah, ke museum, smp anak bisa lihat bhw sejarah itu menarik & ia tergerak mempelajarinya
  14.  Dlm #homeschooling, yg harus diubah pertama2 adalah mindset ortunya, lebih byk belajar, lebih byk mendengarkan anak, lebih byk bareng2 anak
  15.  Ktk memulai #homeschooling, ortu akan selalu berada dlm pergulatan karena terlibat penuh dalam proses belajar, sbg ortu, guru & sahabat anak
  16. Pergulatan dlm #homeschooling tsb akan menimbulkan efek luar biasa pada keluarga. pusat gravitasi pindah! << beneeer, saya ngerasain banget!
  17. sebelum memulai #homeschooling, baik ortu & anak harus lebih dulu melakukan deschooling, yaitu detoks dari paradigma belajar ala sekolah
  18.  Hitungannya kira2 begini: untuk tiap 1 tahun sekolah, perlu 1 bulan deschooling. Biarkan anak ‘ga ngapa2in’ selama deschooling.
  19. Di kutub yg berseberangan dg metode school-at-home, ada unschooling. Asumsi dasarnya: tanpa dipaksa, scr alami anak pasti pny hasrat belajar 
  20. Jadi peran orang tua dalam mengajar anak sangat minimal. Tugas ortu adalah menyediakan atmosfir.
  21. Dlm metode unschooling, ortu TIDAK MENYURUH anak belajar ttg sesuatu, tapi TERLIBAT dalam hal yg ortu ingin anaknya pelajari. 
  22. Kl ke supermrkt, minta anak cari belanjaan. Ini proses belajar yg natural. Kmdn diperkaya: pasta gigi ada di kelompok apa? garam? popok? dst
  23. Jadi alurnya gini: kegiatan2 rutin&biasa >> ortu cari learning opportunity di keg2 tsb >> ortu memperkaya proses belajar dg bertanya/ngobrol
  24. Ortu tdk menyuruh, tapi inspirator. Pingin anak bangun pagi? Ortu harus bangun pagi. Pingin anak ga maniak gadget, ortu dulu yg lepas gadget
  25. Dlm unschooling, ikuti aja minat anak. Kl lg suka masak/ngumpulin batu, ya ikuti. Intervensi minimal, hanya memastikan dia tdk dlm bahaya.
  26. Spy anak ga gampang ganti2 kegiatan, ortu harus buat aturan main. Mis kursus harus selesai min 1 level, kl bikin project harus selesai, dsb.
  27. Kl dibebaskan, gmn kl anak maunya cuma 1 macam kegiatan terus? Ya ikuti aja. Tapi boleh sj menawarkan kegiatan lain. Yg penting jangan maksa
  28. Penting: Ortu jadi seksi dokumentasi anak dg bikin portofolio. Portofolio adl kumpulan output (karya) yg dibuat anak. Bedanya dg rapor… >>
  29. >> Bedanya: Rapor berbasis tes, kl portofolio berbasis karya. Isi portofolio: gambar/lukisan, foto karya/kegiatan, video/rekaman, sertifikat
  30. Salah satu metode dlm #homeschooling adalah EKLETIK, yaitu metode campur2. Jangan mikirin bener/salah, yang penting terasa nyaman di hati
  31. LAKUKAN SAJA! Praktekkan di rumah. Meski konsepnya bagus di atas kertas, tp pas dipraktekkan mlh bikin stres, tinggalkan. Evaluasi,perbaiki.
  32. Metode adalah tools, bukan panglima. Kita yg ngatur, bukan kita yg diatur metode. Kalau ga cocok, jangan takut berubah. Terus belajar!

 

Ini yang perlu saya camkan baik-baik:

lebih banyak mendengarkan anak, lebih banyak bareng-bareng anak –> pusat gravitasi pindah!

selama ini, sepertinya pusat gravitasi saya masih pada diri sendiri, harus diubah!

Memulai HS untuk Reza

Seperti saya tulis sebelumnya, Reza sudah setahun ber-HS. Tapi karena konsentrasi saya sangat sedikit, terpecah oleh banyak urusan lain, hasilnya memang menyedihkan. Reza masih belum termotivasi untuk belajar sendiri. Yang lumayan hanya minat bacanya dan kemampuan gambarnya yang semakin meningkat. Tapi mungkin itu lebih banyak karena bakatnya saja, bukan hasil saya mendidiknya.

Bahkan, terakhir, Reza minta sekolah saja. Alasannya benar-benar membuat saya pengen nangis, “Aku pengen rumah kita direnovasi. Kalau aku HS, kan mama ga bisa kerja karena ngurus aku. Jadi aku sekolah aja biar mama bisa kerja dan dapat uang banyak!”

Hwaa.. sedihnya. Ini pastinya gara-gara saya yang sering mengabaikannya dengan alasan, “mama lagi ada kerjaan nih! tunggu bentar ya!”.. dan tentu saja ‘sebentar’-nya saya beda dengan ‘sebentar’-nya Reza.

Tapi ya sudahlah, mari kita maju ke depan, mulai dari awal lagi. Setelah berdiskusi dari hati ke hati dengan Reza, dia kembali ingin HS, dengan sekian banyak perjanjian. Antara lain, ada jadwal2 tertentu buat saya ‘kerja’, jadwal wajib harian (ngaji, hafalan Quran, dll).  Dan, untuk jadwal ‘belajar beneran’-nya (eh..padahal HS itu kan belajar all day; semua yang dilakukan sepanjang hari sebenarnya adalah ‘belajar; tapi konsep ini masih susah dipahamkan ke Reza) adalah sbb:

Senin: koredasti, sains, math (dari internet), les kumon, les ngaji

Selasa: cooking day, english, sejarah, gambar, les ngaji

Rabu: cooking day, sains, baca buku, les ngaji

Kamis: koredasti, gambar, english, les kumon, les ngaji

Jumat: bikin lap book, les renang sama papa

Sabtu: les thifan

Minggu: main game 1 jam, klub tahfiz

(Sabtu-Minggu: Mama bebas ngetik seharian)

Reza saya ikutkan les ngaji di rumah tetangga dengan tujuan utama sosialisasi (jadi dia kenal dan main bersama anak-anak tetangga, dan mendapat inspirasi dari orang lain -guru ngajinya)

[koredasti : handycraft; bhs Persia :D]

Memulai HS untuk Rana

Saya belajar dari sini: Memulai Homeschooling untuk Anak Usia Remaja

Intinya, ada 3 hal yang perlu dilakukan Rana:

1. meneruskan pondasi keilmuannya: agama (Quran/aqidah/akhlak/fiqih), matematika (tetap lanjutkan les kumon),  bahasa Inggris (mulai les di TBI, tapi karena mahal, targetnya hanya 6 bulan saja, lalu belajar sendiri; yang penting Rana bisa menangkap ‘sense’ bahasa Inggris dan ‘irama’/logatnya, belajar dari native speaker dan gurunya di TBI), dan belajar bahasa Arab (bersama papa dan mama)

2. menekuni hal-hal yang diminati, yaitu musik. Les biola dilanjutkan, ditambah les piano, dan bulan Maret 2014, ikut kelas teori untuk kemudian ikut tes ABRSM. selain itu, tentu saja Rana perlu didorong untuk terus menulis buku.

3. mengembangkan wawasannya, baik sosial, sains, ekonomi, dan budaya;  tujuannya adalah melampaui keluarga (beyond family), agar anak mendapatkan inspirasi/pengetahuan dari sumber-sumber di luar keluarganya.

Masih belum ada ide, bagaimana melakukan yang poin ke-3 ini. Menurut tulisan yang sy link di atas, menonton TED.com bisa bermanfaat. Baiklah, akan kami coba. Yang jelas, Rana harus menyusun jadwalnya sendiri sementara saya berperan mengevaluasi perkembangannya.

Dan kalimat ini perlu saya camkan baik-baik:

kami akan terus berproses, belajar, dan menikmati perjalanan homeschooling ini

Mulai!

Tanggal 22 Juni 2013, acara pelepasan kelas enam. Air mata saya menetes saat bersalaman dengan ibu kepala sekolah. Air matanya juga menetes, dia meminta maaf karena selama ini (menurutnya) kurang maksimal mendidik Kirana. Ah, saya tahu sekali beban berat yang ditanggungnya. Memimpin sebuah sekolah alam yang cukup banyak muridnya, dengan segala urusan yang amat banyak dan berat; dengan beban keuangan yang sudah pasti sangat berat pula (yayasan yang menaungi sekolah ini dipimpin oleh suaminya). Tanpa idealisme dan hati, tak akan bisa bertahan. Saya sendiri punya TK dan berat sekali rasanya mengurusnya. Persoalan silih berganti; persoalan sampingan yang menjengkelkan, bahkan menyakitkan hati. Mungkin akhir tahun ini TK itu akan saya tutup (kecuali bila ada keajaiban, entah apa). Rasanya, sudah terlalu banyak yang saya korbankan. Tapi, sepertinya, persoalan utama adalah dedikasi saya di bidang pendidikan umum yang memang tak terlalu besar. Tidak seperti ibu kepala sekolah itu (dan suaminya).

Tapi saya pikir, setiap orang punya ‘medan perjuangan’-nya masing-masing. Dan saya mungkin memang bukan di pendidikan untuk umum. Mengurus begitu banyak kepala, berhadapan dengan keegoisan orang lain, agaknya bukan tipe saya.

Choose your battles wisely. After all, life isn’t measured by how many times you stood up to fight. It’s not winning battles that makes you happy, but it’s how many times you turned away and chose to look into a better direction. Life is too short to spend it on warring. Fight only the most, most, most important ones, let the rest go.
~ C. JoyBell C.

Sekarang, agaknya sudah waktunya saya konsentrasi mengurus pendidikan anak-anak saya sendiri. Reza sejak setahun yang lalu memutuskan untuk homeschooling (HS). Tapi selama setahun ini konsentrasi saya sangat sedikit, terpecah oleh berbagai urusan. Kirana juga memutuskan HS. Baiklah, saya akan mulai lagi dari awal. Mulai hari ini saya bertanggung jawab penuh atas pendidikan Rana dan Reza sekaligus.