Monthly Archives: August 2013

Ruangan Khusus HS?

Barusan melihat postingan ini dan saya jadi teringat permintaan Rana dan Reza.. mereka ingin ruangan khusus belajar, dengan semua perlengkapan koredasti (bahasa Persia, yg artinya ‘kerajinan tangan’) lengkap tersedia di situ.. Kalau sekarang, kami ga punya ruang itu.. Semua aktivitas dilakukan di ruang tamu-ruang tengah (nyambung) dan kalau ada tamu mendadak..langsung deh kami kalang kabut, karena rumah yang berantakan…

Yah, semoga Allah memberikan rizki bagi kami untuk merenovasi rumah agar lebih nyaman dan ada ruangan tambahan… Tapi sementara ini, bersyukur saja.. Saya pernah berkunjung ke rumah HS-er yang sangat sederhana, lebih kecil daripada rumah kami, dan HS mereka baik-baik saja…

Ini video ruang khusus HS yang diposting di blog tsb.. hopefully, someday we have a rome like this too…

Advertisements

PR

Saya pekan ini harus mulai membuat check list kegiatan anak-anak

Contohnya dari mba E.K. (ada di folder laptop0.

Yang perlu dicontoh/ diaplikasikan (selain yang memang sudah rutin dilakukan):

– mempelajari Quran (tidak hanya baca, tapi mempelajari berbagai hal terkait ayat yang dibaca)

– seni: mengenal lukisan (wah, ini akan menarik, karena saya sama sekali buta soal ini)

-piano (kayaknya emang ga perlu bakat, buat Reza tetap saja diajarkan, meski kliatannya anaknya memang tidak berbakat musik)

-studi alam (misalnya, liat di taman, apa saja hewan yang ada, lalu eksplorasi satu-satu)

-diskusi tentang sejarah Indonesia (hayo,  mulai lagi dari awal.. pakai film2 Youtube biar ‘nempel’)

rasanya memang overwhelming, banyak sekali yang harus dilakukan.. tapi insya Allah bisa.. toh sedikit2, tidak boleh langsung semuanya dijejalkan ke anak.

Oiya, ini penting dicatat (dari status mba Ellen): belajar dari Nat-Geo d Youtube:

Bermodal laptop dan speaker, beberapa malam ini kami menghadirkan “planetarium” di rumah. Cukup matikan lampu kamar, lalu putar film perjalanan keluar angkasa. Anak-anak merasa kunjungan ke matahari dan planet-planet ini seolah nyata, dan serius menyimak cerita serta aktif bertanya.

Life Skill

Usai lebaran adalah waktu yang tepat untuk memulai hidup ‘baru’. Ya, jadwal yang agak ‘kacau’ selama Ramadan-libur Lebaran perlu diperbaiki lagi, ditambah dengan perbaikan-perbaikan. Apalagi, usai libur Lebaran, secara ‘resmi’ dimulailah status Rana sebagai homeschooler, dan Reza ‘naik’ kelas 2.

Perbaikan yang perlu dilakukan:

1. Tadarus Quran musti tetap dipertahankan (kalau selama Ramadan bisa khatam, mengapa di luar Ramadan ga bisa, ya kan?)

2. Tahajud dirutinkan (kan sudah biasa bangun dini hari , ya kan?)

3. Makan makanan yang sehat buatan sendiri.

4. Melatih skill life (mendisiplinkan semua anggota keluarga dalam melaksanakan pekerjaan domestik)

Jadi, kami pun menyusun jadwal bersama.

Hampir semua pekerjaan rumah didaftar: belanja, masak, beresin kamar, cuci piring, nyuci baju, nyiram bunga, dll. Semua orang (papa-mama-rana-reza) kebagian pekerjaan. Tentu saja, Rana dan Reza masih dibimbing papa/mama. Juga, kami nggak ‘saklek’ dalam pembagian tugas ini. Misalnya Reza, saat kebagian tugas nyuci, dia malah seneng karena itu artinya main air (dan yang dicucinya hanya bajunya sendiri, dicuci pakai tangan di kamar mandi) 😀  Padahal,  yang dimaksud adalah mencuci semua baju keluarga dengan cara memasukkan ke mesin cuci yang otomatis (tinggal cemplung dan nanti kalau dah beres mesinnya brenti sendiri).

Lalu, bagian yang jadi ‘problem’ adalah masak. Ini sebabnya saya sendiri emang ga demen masak. Tapi, saya tahu, ini musti didobrak dan dilawan. Jadi, kami pun membuat jadwal menu. Dan semangat untuk mendidik anak, ternyata memberikan spirit kepada saya untuk melawan rasa malas masak. Ternyata, masak kalau ditemani anak-anak (apalagi, alhamdulillah, Rana dan Reza antusias memasak), saya bisa juga melawan rasa malas yang muncul. Selain itu, karena jadwal disusun bersama anak-anak, jadi banyak menu baru yang menarik.

Misalnya, kemarin, kami masak sup ayam jagung. Beda dengan sup yang selama ini saya masak, sup ini tidak pakai bawang putih dan bawang merah, bahkan ga pakai wortel dan seledri. Bahannya cuma ayam, jagung, bawang bombai, putih telur, dan maizena. Dan ternyata, enak. Hari ini kami mengulangi lagi bikin sup ayam jagung, padahal jadwalnya ikan bakar (penyebab lainnya: saya tidur lagi habis subuh karena malamnya begadang, sehingga ga sempet belanja ikan pagi-pagi).

Semoga bisa konsisten.

Semua kebiasaan ketika baru dimulai terasa kikuk, sukar, dan mudah terhapus, tetapi lewat sekian waktu kemudian, menjadi mudah, kokoh, dan sulit hilang. Jika dibiarkan tanpa bimbingan, anak akan cepat meniru kebiasaan-kebiasaan negatif dari orang sekitarnya atau seturut hawa nafsu serta egoismenya. Hanya jika orangtuanya mau bertekun melatihkan kebiasaan-kebiasaan baik, karakter luhur akan dia peroleh. Senegatif apa pun sifat bawaan atau pengaruh lingkungan asal seorang anak, pendidikan punya kuasa untuk mengubahnya. – Ringkasan Vol. 2 Parents & Children pp. 141 ff (6)
[copas dari status mba Ellen Kristi, penulis buku Cinta yang Berpikir]